.

.
.

Senin, 18 Januari 2010

Semua Ada Batas Waktunya






lentera ini tak'kan bisa selamanya berpijar
perlahan minyaknya akan habis juga
namun mengapa engkau belum juga mendekat
sementara lentera yang kupegang semakin redup
saat lentera ini padam
tak'kan ada lagi cahaya
yang bisa buatku terangi hatimu
melihat basah air matamu
mengertilah....
semua itu pasti ada waktunya
...
segeralah mendekat...
sebelum cahaya itu padam

Rabu, 13 Januari 2010

TIPS MERAWAT BARANG WATERPROOF



Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya untuk mengembalikan anti air tersebut ???

Pertama

Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.

Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.

Kedua

Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.

Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita.

Selamat mencoba!

Diambil dari buku “Perkemahan” karya Suardiman Ranu Widjojo

Semoga bermanfaat

Sumber : situs cartenz adventure shop

Sabtu, 09 Januari 2010

Akh lagi-lagi ...















Akh.....lagi-lagi rindu

Mengapa kamu datang setiap saat?
Dan kamu tahu?
Aku sulit untuk bertemu dengannya...!

Akh.....lagi-lagi gundah
Mengapa kamu selalu dihatiku?
Dan kamu tahu?
Betapa kuingin lebih sering di sisinya...!

Perasaan ini,
datang begitu saja
padahal dirinya selalu menolak halus
Kala kuingin untuk bertemu....!

Jumat, 18 Desember 2009

Kemarin











Kemarin...

Aku bertemu sebuah biduk kecil,

yang terombang-ambing di tengah danau...

Enggan menepi, enggan juga berlayar...

Terdiam...

Walau riak-riak danau menghempas pelan...


Kukayuh pelan dayung bidukku menghampirinya...

Memanggil lirih sang penumpang yang terlihat muram...

Sapaan lembutku kemudian menggugahnya...

Segera kulempar sauh di dekatnya...


Bidukku ikut terombang-ambing di samping biduknya...

Di bawah rembulan yang bersinar malu-malu...

Di tengah danau yang tak bertepi...

Mengenang kembali hati yang terpatri...


Sabtu, 21 November 2009

Lelah


"Mengapa berhenti?" tanya seorang teman. "Bukankah kau belum sampai pada apa yang dicitakan?"

Aku lelah. Aku tak sanggup lagi bermimpi.
Aku, kini, ingin menjalani semuanya dengan biasa saja. Dengan apa adanya.

Biarlah, kuikuti saja takdir ini.
Bukankah Tuhan, seperti katamu, telah berrencana?

Teruslah berdoa tanpa ragu dan mengeluh…

Karena Allah tidak akan gagal memenuhi permintaan umat-Nya…


Kamis, 05 November 2009

Negeri Para Bedebah

Puisi “Negeri para bedebah”
oleh Adhie M Massardi


Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah...
di sebuah negeri yang pemimpinnya hidup mewah...
tapi rakyatnya makan dari mengais sampah….

Di negeri para bedebah.....
orang baik dan bersih dianggap salah......
dipenjarakan hanya karena sering bertemu wartawan….
menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah.....
karena hanya penguasa yang boleh marah....
sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah.

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah......
jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah......
karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum......
kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah......
usirlah mereka dengan revolusi.......
bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi.......
bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi.......
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.