Kamis, 21 Januari 2010

MEMILIH ALAS KAKI UNTUK BERPETUALANG

.

Kaki merupakan salah satu bagian penting bagi yang suka jalan-jalan atau berpetualang. Kaki yang sakit, baik itu diakibatkan karena luka luar, terkilir atau patah, dipastikan akan membuat tidak nyaman perjalanan atau petualangan kita.


Bila bagian tubuh yang lain sakit, sedangkan kaki masih sehat, kita masih bisa berjalan mencapai tujuan yang diinginkan. Namun bila badan sehat, tapi kaki patah, maka bisa membuyarkan semua rencana perjalanan dan akan merepotkan teman seiring, karena mereka harus menandu anda. Jadi kaki merupakan salah satu modal utama dan penting bagi yang suka jalan-jalan dan berpetualang di alam bebas.


Membuat kaki sehat dan kuat tentunya dengan membiasakan kaki tersebut bekerja keras, sering digunakan jalan ketimbang duduk atau tidur. Kalau tidak sempat berolahraga, lakukan saja yang bisa kita lakukan di keseharian kita, dengan jalan kaki. Misalnya turun dari taksi atau angkot ke kantor atau rumah yang tidak terlalu jauh, jangan disambung dengan ojek atau bajaj atau becak, tapi dengan berjalan kaki. Bila kita ke pasar, toko atau warung makan yang tidak terlalu jauh, yang biasanya naik bajaj, angkot atau ojek, kali ini cobalah dengan berjalan kaki.


Bila kantor kita di lantai 3 atau 4, coba gunakan tangga untuk naik dan turun. Kalau naik berat dan cape, ya pake lift, tapi saat turun kita pakai tangga. Tips ini jangan dilakukan kalau kantor kita di lantai 40 (he..he..he..!). Semakin sering kita jalan, maka otot kaki akan terlatih, kuat dan fleksibel.


Bila kaki sudah cukup kuat dan terlatih. Kita juga harus tahu alas kaki yang baik dan cocok dikenakan selama berpetualang. Alas kaki yang sekenanya, asal dan tidak sesuai dengan medan akan mengakibatkan otot kaki cepat lelah, yang parah lagi bisa mengakibatkan cedera.


Pertama kali yang harus diperhatikan adalah tujuan dari perjalanan kita. Bila kita akan naik gunung maka yang harus kita bawa adalah sepatu gunung. Sepatu gunung didisain memiliki telapak yang baik untuk menapak di tanah, biasanya berupa pul atau gerigi agar ijakan kuat menancap di tanah. Sepatu gunung yang baik juga akan melindungi kaki dari benturan dengan batu, ranting kayu dan onak duri. Makanya sepatu gunung yang baik adalah yang tinggi, hingga menutupi mata kaki.


Kalau sepatu gunung semata kaki terasa berat, bisa juga pakai sepatu gunung yang pendek. Pakailah sepatu gunung berukuran 1 atau 2 ukuran lebih besar dari biasanya, misalnya kita biasa pakai sepatu kets nomor 40, maka ukuran sepatu gunung kita harus 41 atau 42. Sepatu yang ketat tidak baik untuk kaki. Sepatu gunung yang longgar, dimaksudkan agar kita bisa menggunakan kaos kaki tebal, yang berguna melindungi kaki dari benturan (lebih empuk) dan menghangatkan kaki.


Sepatu gunung yang harganya mahal harus kita rawat dengan baik. Saran saya bila tidak sangat kotor atau pernah terbenam dalam lumpur, sepatu gunung jangan terlalu sering di cuci, apalagi dengan merendamnya. Kalau hanya kotor sedikit, lebih baik disikat dengan air saja. Hindari sabun atau deterjen yang keras. Jika sepatu terlalu sering sepatu dicuci dan di rendam bisa mengakibatkan lem dan jahitan berkurang

kekuatannya.


Kalau sudah dicuci, jangan di jemur di matahari terik secara langsung. Beberapa bagian dari sepatu tidak tahan panas, bisa mengakibatkan bahan mengeras dan mudah sobek. Jemur sepatu di tempat tidak terlalu panas (hangat atau sejuk) dan bagus lagi kalau berangin. Diperjalanan, kalau sepatu kita basah kuyup, jangan sekali-kali memanggangnya di api unggun. Bukannya kering, yang kita dapat bisa jadi sepatu gosong !!


Kalau tidak ingin cedera ketika mendaki gunung jangan sekali-kali menggunakan sepatu kets atau sepatu olahraga biasa, karena sepatu ini tidak dirancang untuk aktifitas berat dan mempunyai konstruksi yang tidak cocok. Selain tidak akan kuat dan cepat rusak karena sobek, lemnya mengelupas atau jahitanya lepas. Alas sepatu biasanya bertekstur rata, ini berbahaya, karena akan membuat membuat licin bila berjalan di tanah gunung.


Jangan juga mengikuti orang yang pake sandal gunung, apalagi sandal jepit untuk naik gunung. Kelihatannya ringkas dan ringan. Tapi ini sangat sangat berbahaya lagi. Kalau tidak percaya silahkan coba. Tapi tidak ditanggung akibatnya ha..ha...ha...


Sandal gunung atau sandal jepit selain membuat kaki terbuka, tidak terlindung dari batu tajam, onak duri dan patahan kayu yang bisa sewaktu-waktu menusuk kaki. Belum lagi kedua sandal ini rata di bagian alas, licin, bisa mengakibatkan orang yang memakainya tergelincir, bersyukur kalau hanya keseleo, kalau sampai patah atau masuk jurang bagaimana…hih !


Namanya memang sandal gunung, tapi bukan berarti bagus digunakan jalan ke gunung. Sandal gunung cocok bila kita gunakan bila sudah mendirikan tenda, selama aktifitas hilir mudik di camp, untuk ke tenda dapur umum atau mengunjungi tenda pacar di sebelah (halahhhh…)


Begitu juga jika kita akan menyusuri dan melakukan perjalanan panjang di sungai, pilihan alas kaki yang tepat untuk kita gunakan adalah sandal gunung. Loh sandal gunung tapi di sungai. Yups betul sekali. Sandal gunung selain praktis, kuat, tahan air, ringan dan mudah dilepas pasang.


Sepatu gunung atau sepatu kets tidak cocok dipakai di sekitar sungai. Karena selain berat juga licin selama hilir mudik di perahu, apalagi bila kita harus turun dari perahu dan jalan di tepi sungai yang licin dan berair. Namun bila turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan darat masuk hutan keluar hutan kita wajib pake kembali sepatu outdoor. Sandal gunung juga cocok digunakan bila kita akan jalan-jalan menyusuri keindahan pantai atau ketika berarung jeram.



Lain halnya bila kita hendak caving atau menyusuri goa, alas kaki yang cocok digunakan adalah sepatu boat. Sepatu ini selain hangat, juga melindungi kaki dari benturan dengan bebatuan goa dan goresan dinding goa yang tajam.


Jadi saya kira yang pas untuk alas kaki, aman dan nyaman selama kita jalan-jalan di alam bebas atau bertualang adalah membawa sepatu khusus untuk aktifitas di outdoor dan sandal gunung. Itu sudah cukup. Simpan alas kaki lainnya di rumah.


Selamat bertualang…. jangan lupa berdoa.

by : Dody Johanjaya

Rabu, 20 Januari 2010

Kenangan Itu





Kupakai cakrawala untuk menggambar sore itu
Lalu kubingkai dengan segi empat persegi
Meski telah habis warna cakrawala untuk melukis
Tetap saja tak mampu tuk ungkapkan kelamnya hati

Tak cukup kuberlabuh di tepi kenangan
Kusapa hembus angin yang melintas
Dan kulambai pada dedaunan yang bergoyang
Namun hanya ada warna merah jingga yang kian merona jiwa

Hingga gelap bermain dengan bintang
Dan bulan pun tersenyum di kejauhan
Masih saja kuberusaha melukis senja itu
Tetapi tetap saja tak mampu tuk ungkapkan kelam hati

Senin, 18 Januari 2010

Semua Ada Batas Waktunya






lentera ini tak'kan bisa selamanya berpijar
perlahan minyaknya akan habis juga
namun mengapa engkau belum juga mendekat
sementara lentera yang kupegang semakin redup
saat lentera ini padam
tak'kan ada lagi cahaya
yang bisa buatku terangi hatimu
melihat basah air matamu
mengertilah....
semua itu pasti ada waktunya
...
segeralah mendekat...
sebelum cahaya itu padam

Rabu, 13 Januari 2010

TIPS MERAWAT BARANG WATERPROOF



Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya untuk mengembalikan anti air tersebut ???

Pertama

Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.

Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.

Kedua

Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.

Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita.

Selamat mencoba!

Diambil dari buku “Perkemahan” karya Suardiman Ranu Widjojo

Semoga bermanfaat

Sumber : situs cartenz adventure shop

Sabtu, 09 Januari 2010

Akh lagi-lagi ...















Akh.....lagi-lagi rindu

Mengapa kamu datang setiap saat?
Dan kamu tahu?
Aku sulit untuk bertemu dengannya...!

Akh.....lagi-lagi gundah
Mengapa kamu selalu dihatiku?
Dan kamu tahu?
Betapa kuingin lebih sering di sisinya...!

Perasaan ini,
datang begitu saja
padahal dirinya selalu menolak halus
Kala kuingin untuk bertemu....!