Sabtu, 20 Februari 2010

BILA RASULULLAH SAW MENJENGUK KITA


Hari ini, kita sudah memasuki bulan Rabiul Awal. Ada apa di bulan Rabiul Awal..??? Ya, tanggal 12 Rabiul Awal merupakan hari kelahiran junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Lalu sudahkah kita melaksanakan dengan benar ajarannya dan menjauhi apa yang yang dilarangnya? Diri kita sendirilah yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Sekarang bayangkan apabila Nabi Muhammad SAW dengan seijin Allah SWT tiba-tiba muncul dan mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan?

Seharusnya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas tak ragu dengan segera mempersilakan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan merayu dan merajuk meminta dengan sangat agar Rasulullah SAW sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum .....

Tapi apa yang terjadi, mungkin kita meminta pula Rasulullah SAW menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat pada video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita akan dengan tergesa-gesa memindahkan terlebih dahulu video tersebut ke dalam. Beliau tentu tetap tersenyum ......

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Dan jika ada kita akan memindahkan lafadz Allah dan Muhammad yang ada di sudut ruang samping untuk meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu masih juga tersenyum .....

Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAW bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa anak kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada Sholawat kepada Rasulullah SAW. Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mengajari anak-anak kita. Beliau tentu masih juga tersenyum.



Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Power Rangers atau nama-nama para artis pemain Opera Van Java. Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar menjadi ruang Shalat. Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah SAW. Beliau tentu tersenyum .......

Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita ? Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi. Beliau tentu tetap tersenyum .....

Barangkali kita juga akan tersipu-sipu malu karena pada saat maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV melihat acara Take Me/Him Out atau Termehek-mehek. Barangkali kita juga menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan sholat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca kitab AlQuran. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita. Beliau masih juga tersenyum ......

Barangkali kita menjadi malu saat kita tak bisa menjawab tatkala Rasulullah SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari selalu lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu saat Rasulullah SAW bertanya tentang siapa nama dan dimana alamat tukang penjaga masjid di kampung kita, dan kita tak tahu. Tetapi senyum Beliau masih ada di situ ......

Sekali lagi coba bayangkan, apabila Rasulullah SAW tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kita... Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilakan Beliau masuk dan merayu Rasulullah untuk menginap di rumah kita? Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menerima Beliau hanya di teras rumah kita, menolak beliau menginap di rumah kita karena hal itu akan sangat membuat kita sangat repot dan malu. Maafkan kami ya Rasulullah.........

Masihkah beliau tersenyum ? Tentu Beliau masih tersenyum, senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir. Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah...

Rabu, 17 Februari 2010

Ayo Berbenah


Anganku sesaat melayang kembali ke masa kanak-kanak. Teringat saat aku kecil dulu, tiap kali hari ulang tahun, aku ingin seluruh keluargaku meningatnya agar dapat merayakannya, minimal memberi ucapan selamat. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya perlahan-lahan aku sudah melupakan ritual itu. Tanggal ulang tahunku pun tidak lagi menjadi hal yang istimewa.

Kini apa yang aku lakukan saat usiaku bertambah? Aku berusaha mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan dengan segala suka dukanya. Meski hidupku kadang terasa biasa saja, tapi aku sadar bahwa di luar sana masih banyak orang yang hidupnya tidak sama beruntungnya denganku. Seorang kawan pernah mengeluh dan bilang :

“Saya suda bekerja setiap hari, tapi kok tetap begini aja.. kapan kayanya ya …??”.

Wajarkah keluhan itu? Bagi sebagian orang dengan banyak keterbatasan mungkin lumrah tapi rasanya keluhan itu tidak cukup pantas untuk dia ucapkan. Temanku ini boleh dikatakan sukses dalam karirnya, di usianya yang masih boleh dibilang muda, ia sudah mampu memiliki keinginannya, kemana-mana tentengannya selalu blackberry & barang yang tak pernah ketinggalan jaman. Dan yang terpenting adalah keluarganya yang sangat menyayangi dia.. Lalu? Aku iseng jawab keluhannya dengan begini :


”Nggak boleh ngomong gitu ah. Kamu mungkin merasa kurang tapi tahu nggak ada orang lain yang ngelihat, kalau kamu adalah orang yang sangat beruntung. Wiuh, dia itu hebat ya punya Blackberry, uangnya banyak. Bersyukur deh..”.

Temanku hanya cengengesan mendengar jawabanku, mungkin tidak cukup memuaskan. Hmm, tapi di kala lain aku juga tidak sebijak yang aku omongkan seperti di atas. Aku juga pengeluh. Paling sering adalah keluhan :

”Ah, kok pengeluaran banyak sih padahal pemasukkan nggak nambah-nambah”. Aku utarakan hal itu pada sahabat dan seperti biasa dengan gayanyaya dia selalu menjawab pertanyaan picisan saya.

” Namanya orang, sebesar apapun pemasukkannya pasti nggak akan pernah cukup kalau dia selalu menuntut lebih. Dulu cukup naik sepeda sekarang pingin naik motor, sekarang naik motor ingin naik mobil, sekarang punya rumah mungil, ingin rumah besar tingkat, dulu baju nggak ketinggalan jaman cukup sekarang tuntutannya brand minded. Kalau gaya hidupnya terus lihat ke atas ya nggak akan cukup.”

”Hmmm… (aku agak diam tapi sebenarnya masih mikir mau mungkir..he..he..)”

“Nah yang bijak adalah kalau kita diberi kelebihan oleh Tuhan, kita bisa bersikap
sewajarnya. Tidak berlebihan tapi juga nggak pelit-pelit amat. Sesuaikan dengan kemampuan. Jangan latah ikut trend..”

Saya pikir betul juga omongan kawanku ini. Lagi-lagi aku lupa bersyukur. Masih berbicara dengan bertambahnya umur.. ya itu tadi, rupanya masih banyak kekurangan yang ada di diri ini salah satunya adalah kurang bersyukur. Ya, bukankah Tuhan sudah begitu baik kepadaku. Aku telah banyak diberi anugerah, keluarga yang selalu mendukungku, sahabat-sahabat yang baik hati dan selalu menghibur, rezeki yang diterima, kesehatan, semuanya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.

Maka Tuhan pasti akan marah dan kecewa jika aku tidak membuat itu semua menjadi jauh lebih baik. Aku harus berbenah sekarang mulai sekarang. Ada satu hal lagi yang aku sangat cintai dan itu adalah salah satu pemberian Tuhan yang paling berharga. Aku diberkahi dengan sifat humoris, aku bisa menertawakan kesalahanku agar dapat segera memperbaikinya di lain waktu. Tak ada dalam kamus untuk bersedih waktu yang lama. Maka aku memandang hidup ini indah.., indah sekali, seperti semburat oranye yang mengintip di sela-sela awan ketika senja.. Ayo berbenah.., berbenahlah mulai dari sekarang...

Kamis, 04 Februari 2010

Merindu Ismarilianti


DI PUNCAK SANA
oleh : Dedew





















Di mana angin berhembus tanpa penghalang
Manik mata sejauh pandang adalah kebebasan
Di situlah teman,
Citamu terpaut memanggil-manggilmu
Ya, ingin kau rasakan kebesaran-Nya
Itu ikrarmu suatu ketika kala kita duduk-duduk
menatap Merapi tua kokoh di sana
Hingga suatu masa
Kau jejakkan langkah di puncak keagungan
Kau titi kekokohan ciptaan Allah itu dengan seribu gumam syukur

Hingga tiba saatnya
Kau mesti melepas nafas di ketinggian itu
Tersungging senyum tersisa di antara cita-cita yang tergapai
Hela nafasmu lega
T'lah kau capai puncak gunung ini
Kau hayati kebesaran-Nya
Dan pergi membawa segenggam senyuman...


(Merindu Ismarilianti, 20 Juni 1980 – 15 Pebruari 2001)