Senin, 31 Mei 2010

Hari Bebas Tembakau, (Semoga Bukan) Cuma Basa Basi …

Di Hari Bebas Tembakau (31 Mei) ini, pernahkah anda membaca sebuah humor seperti ini, setelah selesai membaca peringatan yang ada di bungkus rokok tentang bahaya merokok, seorang perokok baru mengetahui bahwa merokok itu sangat berbahaya. Kemudian ia pun berjanji kepada dirinya sendiri, yang kemudian janjinya itu ditulis di tembok yang berbunyi :
”Setelah membaca peringatan itu dan mengetahui bahaya dari merokok, mulai sekarang saya berjanji untuk berhenti MEMBACA peringatan itu!!!”

Mempermasalahkan segala aspek rokok dan bahayanya yang timbul, sudah tidak perlu lagi, karena sebagian besar orang sudah tahu. Hampir di semua rumah sakit, puskesmas, poliklinik atau tempat praktek dokter bisa ditemui pamflet yang menjelaskan tentang bahaya rokok dan zat-zat berbahaya yang dikandungnya. Ditulis dengan gaya bahasa yang sedemikian rupa agar pembacanya menjadi sedikit, agak atau bahkan sangat takut akan bahayanya merokok, dan akhirnya akan mengurangi atau malahan berhenti merokok sama sekali.

Bukan Berkurang, Jumlah Perokok, Pabrik Rokok, Serta Merek Rokok Baru Malah Bertambah

Hampir di semua tempat umum, kita tidak akan pernah terbebas dari rokok dan asapnya. Iklan-iklan rokok memang sudah tidak boleh ditayangkan di televisi, tapi tetap selalu hadir di depan mata kita, baik berupa spanduk, billboard besar di tengah jalan, maupun pamflet yang ditempel di sembarang tempat. Di setiap event besar, baik pergelaran musik, seminar dan bahkan kegiatan olah raga, biasanya juga tidak bisa lepas dari peran perusahaan rokok sebagai sponsornya. Dari gambar dan tulisan iklan itu kita mengetahui bahwa jumlah merek rokok baru selalu bermunculan dengan menawarkan taste (rasa) atau pun keunggulan lain yang dapat menarik minat perokok lama atau calon perokok baru untuk mencobanya.

Mengenai jumlah perokok di Indonesia, kita yakin selalu bertambah setiap harinya. Masih sekolah saja mereka sudah menjadi perokok, bagaimana bila sudah lulus dan bekerja ? Bahkan banyak pengangguran yang juga menjadi perokok aktif, padahal tidak mempunyai sumber penghasilan. Bisa ditebak kira-kira siapa yang dimintai uang setiap hari untuk membeli rokok.

Mana Upaya Tegas Pemerintah?

Sampai hari ini tidak terlihat sedikitpun adanya upaya dari pemerintah untuk mengurangi jumlah produksi rokok di Indonesia. Tidak ada pembatasan jumlah produksi bagi perusahaan rokok, dan juga tidak ada pembatasan jumlah pabrik rokok di Indonesia (di sini kita tidak mengatakan upaya menutup pabrik rokok, karena akan dipersoalkan dengan masalah nasib pekerja pabrik rokok dan pendapatan negara melalui cukai). Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah tidak ada pembatasan dengan tegas sekaligus sanksi bagi yang melanggar wilayah-wilayah publik yang tidak boleh ada asap rokoknya. Kecuali mungkin di dalam pesawat terbang, di dalam bioskop sekelas Studio 21 dan di ruang tunggu dokter, rumah sakit atau di dalam bis ber-AC.

Peringatan di Bungkus Rokok sekedar Basa-Basi

Peringatan akan bahayanya sesuatu barang seharusnya diiringi dengan upaya mencegah barang tersebut dipergunakan oleh orang lain. Apabila orang diperingatkan akan bahaya sesuatu barang, akan tetapi orang bisa dengan bebas memperoleh barang tersebut dan bebas pula mempergunakannya, maka peringatan tersebut dapat digolongkan peringatan basa-basi. Basa-basi apabila diterjemahkan secara bebas adalah basa artinya bahasa atau ucapan dan basi artinya sudah busuk dan tidak bisa dimakan lagi. Jadi peringatan basa-basi bila diartikan secara bebas menjadi peringatan dengan ucapan yang sudah busuk dan tidak bisa dipakai.

Pun begitu dengan hari yang diperingati sebagai Hari Bebas Tembakau ini. Di hari ini katanya diharapkan para perokok aktif meninggalkan kebiasaan merokoknya dan orang-orang yang bukan perokok (perokok pasif) bisa merasakan sehari bebas dari asap rokok. Tapi hal ini rasanya belum cukup, hari ini pun seharusnya semua pabrik rokok di dunia berhenti berproduksi dan semua pedagang rokok menghentikan kegiatan jual belinya, begitu juga semua iklan produk rokok ditutup di seluruh dunia. Bagaimana? Apakah yang demikian sudah terjadi sepenuhnya?

Jumat, 21 Mei 2010

Indonesia Bisa


Aduh kok bisa lupa ya…. Jujur, aku benar-benar lupa kalau kemarin itu adalah hari Kebangkitan Nasional. Aku baru ingat saat melihat berita di siaran salah satu televisi swasta di tanah air ini kemarin malam.

Parah nih.. hari Kebangkitan Nasional saja bisa lupa… Tapi lebih parah lagi, mungkin bukan hanya aku, tapi banyak orang juga sudah lupa, yang mereka fikirkan kemarin adalah hari kamis, dan menjelang weekend dan bersiap-siap menonton final Piala Champions. He he kok bisa lupa ya….

Tepatnya 102 tahun yang lalu, bangsa ini merintis sebuah cita-cita untuk menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka, hari yang mana kemudian kita kenal sebagai hari Kebangkitan Nasional. Rasanya, sudah lama sekali saya tidak melakukan upacara peringatan seperti ini. Terakhir kali mungkin saat saya masih sekolah.

Hari Kebangkitan Nasional kemarin, dimanfaatkan oleh Presiden SBY dengan mengumumkan pejabat Menkeu baru, empat jam menjelang hari kebangkitan nasional. Entah kebetulan atau tidak, ini adalah gebrakan baru. Terlepas dari pro kontra mengenai Sri Mulyani, kita semua berharap pengganti beliau, yang sekarang Agus Martowardjojo mampu meneruskan semangat kebangkitan nasional dan memberikan dampak yang signifikan kepada Republik ini.

Tahun ini, hari Kebangkitan Nasional terasa pas sekali karena muncul bersamaan dengan kegagalan membawa pulang Piala Thomas dan Uber untuk yang kesekian kalinya (hiks..hiks…). Kegagalan ini haruslah menjadi pelecut semangat untuk menuju prestasi yang jauh lebih baik. Kebangkitan Nasional jangan hanya tercermin dari perayaannya saja, melainkan semangatnya harus mendarah daging di diri ini.

Mudah-mudahan yang kemarin mengadakan upacara, bukan hanya simbolis perayan saja. Dan yang tidak melakukan upacara, ini hanyalah masalah konteks upacara. Pesan penting semangat kebangkitan, tetaplah tertanam dalam sanubari kita.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Mari bangkit menjadi pribadi yang lebih baik. (Seruan ini terutama ditujukan untuk diri sendiri)

Rabu, 12 Mei 2010

HIJAUKAN ALAM DARI MEJA KERJA ANDA


Ketika pohon terakhir ditebang, manusia baru akan sadar betapa tidak bergunanya uang.


Seberapa banyak anda mempergunakan kertas untuk mencetak di kantor setiap harinya? Jawabannya pasti beragam dari yang hanya terbilang satuan hingga puluhan lembar. Tetapi tahukah anda bahwa dengan kita menghemat penggunaan kertas berarti juga kita dapat menghemat air? Lantas, dimana hubungan antara keduanya?


Ternyata untuk membuat selembar kertas ukuran A4, setidaknya dibutuhkan air sebanyak 400 ml, alias setara dengan dua gelas. Sedangkan kita semua tahu bahwa air saat ini merupakan barang yang termasuk langka dan harus dihemat sebisa mungkin. Tapi tidak hanya itu saja, menghemat pemakaian kertas berarti juga ikut menyelamatkan hutan-hutan di bumi ini yang semakin merana karena habis ditebangi hingga gundul. Ini semua dikarenakan bahan baku kertas 95 persennya adalah kayu.

Artinya secara tidak langsung kita juga turut serta dalam proses penggundulan hutan itu. Dan sekarang itu menjadi tanggung jawab kita semua. Banyak sebetulnya yang dapat kita lakukan baik di rumah maupun di kantor untuk mengurangi konsumsi kertas, ayo lakukan dari sekarang.

Gunakan Secara Maksimal

Ajakan untuk menggunakan kertas di dua sisi, jangan hanya dianggap sebagai slogan belaka. Cara yang tampaknya mudah ini masih belum banyak dipraktekkan orang. Padahal jika ajakan ini dilakukan, maka penghrematan besar akan kita dapatkan. Mulailah gunakan kertas di dua sisi.

Lihatlah sekitar meja kerja anda, berapa banyak lembar kertas yang sekedar ”singgah” ke meja kita. Koran, majalah, tagihan kartu kredit, brosur sampai tisu, dapat dengan mudah kita temukan di sekitar meja kerja kita. Kertas tagihan, brosur penawaran atau selebaran yang masih memiliki sisi kosong jangan langsung dibuang. Pisahkan kertas yang masih dapat dipakai di tempat khusus. Potong kertas-kertas tersebut menjadi kertas-kertas kecil dan bagian yang masih kosong dapat digunakan sebagai sebuah memo kecil atau  pencatat pesan telepon.

Go Online!
Sebagian dari kita biasa menggunakan sebuah personal komputer. Mulailah membiasakan diri untuk ”hidup tanpa kertas”, misalnya menerima dan mengirimkan informasi secara digital, alihkan tagihan kartu kredit dan tagihan telepon yang dikirimkan lewat pos setiap bulannya dengan tagihan lewat surat elektronik (email). Dengan begitu kita sudah ikut mengurangi penggunaan kertas yang tidak perlu.

Kembali Ke Masa Lalu

Perkembangan teknologi semakin hari semakin canggih. Tetapi tidak ada salahnya jika kita kembali ke kebiasaan masa lalu yang ternyata dapat menghemat kertas. Sekarang ini kita terbiasa membersihkan segala sesuatu dengan tisu. Membersihkan keringat di wajah, menggunakan tisu. Minuman tumpah, airnya diserap dengan tisu. Tangan basah sehabis cuci tangan, dikeringkan dengan tisu. Akibatnya gumpalan tisu itu menumpuk di tempat sampah.

Karena sifatnya yang sekali pakai, menjamin tisu lebih higienis. Namun perlu diingat bahwa konsumsi tisu yang sangat besar di seluruh dunia akan membawa dampak besar pula bagi penggundulan hutan. Penghematan pemakaian tisu pasti akan memberi dampak yang cukup besar bagi kelestarian alam.

Lalu bagaimana mengurangi pemakaian tisu? Kita bisa gunakan lap berbahan kain untuk di dapur, di wastafel, dan sebagai penyeka muka. Kain dapat dicuci dan dipakai berulang-ulang dan yang lebih penting tidak menghasilkan limbah kertas.

Ayo mulai sekarang, selamatkan dunia dari meja kerja anda. Jangan sampai ketika pohon terakhir ditebang, kita baru akan sadar bahwa betapa tidak bergunanya uang. Go Green..Go..Go..Go..

Ikuti juga Lomba Menulis Artikel Ilmiah IATMI 2010. 
Untuk keterangan lebih lanjut klik di IATMI Cirebon.