Rabu, 28 April 2010

PELESTARIAN LINGKUNGAN

Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli.

Jika kita cermati isi dari berita beberapa tahun terakhir ini, setiap kali memasuki pergantian musim, baik dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya,  ternyata peristiwa itu banyak menelan korban, baik korban  jiwa maupun harta benda. Tanpa kita semua sadari, hal ini sebenarnya merupakan akibat dari terjadinya kerusakan lingkungan yang amat memprihatinkan.
 
Dengan dalih kepentingan bangsa dan guna memacu pembangunan perekonomian, membuat kita semua lalai untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam raya ini. Akibatnya semakin banyak lingkungan yang rusak parah dan kehilangan keseimbangan ekosistemnya. Dan seperti sudah menjadi sebuah ”lagu wajib” bahwa hal mengerikan semacam ini hanya dianggap sebagai fenomena sebuah bencana alam.

Hari ini, mungkin kerusakan lingkungan semakin parah. Untuk itu, perbaikan lingkungan hidup harus segera dilakukan dengan sangat serius yang melibatkan semua pihak, khususnya pemerintah yang memiliki kekuatan penuh dalam upaya perbaikan lingkungan hidup.
   
Perbaikan lingkungan hidup bukanlah isu baru dalam perjuangan pelestarian lingkungan. Dunia melalui Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Sotckholm tahun 1972 dan Deklarasi Lingkungan Hidup KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992 telah menyepakati prinsip dalam pengambilan keputusan pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan dan manusia, serta KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesberg Tahun 2002 yang membahas mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup. 

Lingkungan Hidup itu sendiri apa sih? Pertanyaan mendasar ini harus kita jawab sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Lingkungan hidup merupakan ruang kehidupan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi secara seimbang. Proses interaksi ini disebabkan oleh fungsi yang berbeda dari masing-masing individu makhluk hidup, dimana tiap individu itu berusaha menjaga dan mempertahankan eksistensi dan fungsinya masing-masing.

Kita sudah sering menyaksikan bencana yang terjadi, karena memang wilayah Indonesia berada di daerah yang rentan akan terjadinya bencana, seperti gempa bumi, tsunami, longsor dan lain-lain. Belajar dari bencana yang telah terjadi, kita tidak usah mencari kambing hitam siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi, kerjakan yang terbaik (do the best) untuk kehidupan dan lingkungan hidup di sekitar kita. Bencana memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi lingkungan hidup kita. Untuk itu, melestarian lingkungan hidup merupakan solusi terbaik dalam rangka meminimalisir terjadinya bencana. 
 
Namun perlu diakui masih banyak kekurangan di sana sini yang mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, yaitu bentuk upaya pelestarian yang dilakukan masih bersifat sporadis dan tidak terintegrasi dengan bagian-bagian lainnya. Inilah titik lemah dari seruan yang dikumandangkan untuk melestarikan lingkungan, atau dengan kata lain upaya tersebut tidak lebih dari gerakan moral semata. 
 
Oleh karena itu, ke depan upaya pelestarian lingkungan hidup hendaknya diubah. Upaya yang semula hanya sebagai gerakan moral diubah menjadi sebuah gerakan sosial. Gerakan sosial dalam pelestarian lingkungan hidup diartikan sebagai rangkaian upaya pelestarian yang menekankan adanya tertib sosial dan tertib implementasi dengan tujuan untuk mewujudkan eksistensi beserta interaksi komponen lingkungan. 
 
Tertib sosial menekankan pada kepatuhan pelaku-pelaku pelestarian ligkungan hidup terhadap rambu-rambu sosial yg telah ada. Tertib implementasi menekankan pada landasan idiil yang digunakan dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, bahwa setiap upaya didasarkan pada alasan-alasan yang diakui kebenaranya secara ilmiah.
Jika hal di atas dapat dilakukan dengan baik, maka upaya pelestarian lingkungan andaipun tidak berhasil, minimal tidak memperparah keadaan yang memang sudah sedemikian parah. Benar kata orang bijak, saat pohon terakhir ditebang, maka orang akan sadar bahwa uang bukan segalanya. 

Ikuti juga Lomba Menulis Artikel Ilmiah IATMI 2010. 

Untuk keterangan lebih lanjut klik di IATMI Cirebon.
 



Artikel menarik lainya:

Tidak ada komentar: