Rabu, 07 Juli 2010

ESQ

“Manusia cenderung memusuhi sesuatu yang dia tidak fahami atau jahil terhadapnya.”(Sayyidina Ali Bin Abi Talib)


Dinilai banyak yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, Emotional and Spiritual Qoutient (ESQ) difatwa sesat. Sebuah fatwa dari Mufti wilayah persekutuan Malaysia telah menimbulkan kehebohan di Indonesia

Berpusat di menara 165 Jalan TB Simatupang Jakarta Selatan, ESQ yang digarap oleh Ary Ginanjar Agustian, telah berhasil men-training puluhan ribu orang dengan konsep keseimbangan antara Emosi, Spiritual dan Intelektual.

ESQ adalah pelatihan sumber daya manusia yang bertujuan untuk membentuk nilai moral dan karakter manusia, melalui penggabungan tiga potensi yang ada di manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Saat ketiga potensi manusia tersebut terpisah serta tidak didayagunakan dengan baik dan maksimal, maka manusia akan mengalami krisis moral dan split personality. Dan lebih buruk lagi manusia yang tidak dapat mendayagunakan ketiga potensi itu akan kehilangan makna hidup serta jati dirinya, begitu kutipan yang menjelaskan apa itu ESQ secara singkat.

Namun bagi mufti Malaysia ajaran yang dipopulerkan oleh Ary Ginanjar ini adalah ajaran sesat dan harus dihindari. Melalui kajian, akhirnya mereka memutuskan bahwa ajaran ESQ yang mengusung ide Tujuh Budi Utama dan bercita-cita akan menuju Indonesia Emas pada tahun 2020 ini, difatwakan sesat berdasarkan sebuah fatwa tertanggal 10 Juni 2010.

Dalam fatwanya Mufti wilayah persekutuan Malaysia menjelaskan alasan kesesatan ESQ Ary Ginanjar, berikut ringkasan fatwanya:
  • ESQ mendukung paham liberalisme yang menafsirkan nash-nash agama (al-quran dan sunnah) secara bebas.
  • ESQ menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian, dan ini bertentangan dengan aqidah Islam tentang Nabi dan Rasul.
  • ESQ mencampuradukkan ajaran spritual bukan Islam dengan ajaran spiritual Islam.
  • ESQ menekankan konsep ‘suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik atau buruknya sebuah perbuatan.
  • ESQ menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama.
  • ESQ mengingkari mukjizat karena dianggap tidak dapat diterima akal.
  • ESQ menyamakan bacaan Al-fatiha sebanyak 17 kali dalam shalat dengan ajaran Bushido Jepang yang berlatar belakang ajaran Buddha.
  • ESQ menafsirkan kalimat syahadat dengan "triple one".
Demikian ringkasan fatwa Mufti wilayah persekutuan Malaysia yang ditandatangani oleh Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh yang merupakan mufti resmi wilayah persekutuan Malaysia. Untuk mengunduh / download fatwa lengkapnya bisa diklik disini.

Membaca fatwa di atas, aku selaku alumni ESQ Peduli Lingkungan 1 Cirebon, tentunya sangat kecewa. Karena setelah mengikuti training ESQ banyak hal positif yang didapat, di antaranya aku bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya. ESQ bukan sebuah aliran agama, melainkan sebuah metode pelatihan yang menggabungkan antara nash-nash Alquran dengan perkembangan teknologi modern. Menurut aku inti dari pelatihan ESQ ini adalah mengasah diri kita untuk merasakan kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melalui THE ESQ WAY 165 (Satu Allah SWT yang berdasarakan enam Rukun Imam dan lima Rukun Islam).

Sayyidina Ali Bin Abi Talib pernah berkata, “Manusia cenderung memusuhi sesuatu yang dia tidak fahami atau jahil terhadapnya.” Hati-hati dalam menuduh sesama Muslim itu kafir atau sesat, jika tidak benar tuduhan itu maka akan berbalik kepada yang menuduh. Yang pasti ada kalimat bijak "Man lam yadzuq lam ya'rif." Siapa yang tidak bisa merasakan tentu tidak tahu, tahu hanya berdasarkan prasangka ….. untuk bisa memberi fatwa benar atau salah, sesat atau tidak sesat sebaiknya rasakan dulu karena ini mengarah kepada nilai tauhid.


Artikel menarik lainya:

Tidak ada komentar: