Jumat, 03 Desember 2010

Hijrah


" Waktu terus bergulir dan membawa perubahan. Tak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.  Perubahan itu terjadi dengan sendirinya tanpa harus ada campur tangan manusia. "

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Muharram, bulan yang menandai datangnya kembali tahun baru hijriyah. Tahun baru hijriyah mengingatkan kita kepada kejadian spektakuler dalam sejarah Islam, yakni peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Sebuah peristiwa bersejarah yang di dalamnya terkandung makna dan keteladanan untuk sebuah pengorbanan sejati yang mengapresiasikan perlawanan akan kebathilan sekaligus sikap konsisten mengutamakan kepentingan misi di atas kepentingan apa pun, meski karenanya harus meninggalkan negeri, harta, sanak dan handai taulan tercinta.


Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah ia mengandung dua makna yaitu, hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman.

Tidak ada salahnya jika kita coba menggali hikmah yang terkandung dibalik ditetapkannya peristiwa hijrah Rasulullah sebagai awal dari  dimulainya tahun Hijriyah ini. Tahun baru hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Yang harus diperhatikan, sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama “ Tahun Muhammad ” atau “ Tahun Umar ”. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personal. Tidak seperti “Tahun Masehi” yang diambil dari gelar Nabi Isa a.s., Al – Masih ( Arab ) atau Messiah ( Ibrani ).

Tidak juga seperti penanggalan “Tahun Saka” bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka. Menurut dongeng dan mitos, Aji Saka diyakini sebagai raja keturunan dewa yang datang dari India untuk menetap di tanah Jawa.

Atau penanggalan Bangsa Jepang, “Tahun Samura”, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami ( dewa matahari ) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan dewa matahari, yakni Jimmu Tenno ( naik tahta 11 februari 660 M yang dijadikan awal tahun perhitungan Tahun Samura )
 
Penetapan nama “Tahun Hijriyah” ( al – Sanah al – Hijriyah ) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya beliau berambisi, sangatlah mudah baginya untuk memberi nama penanggalan itu dengan Tahun Umar. Namun Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalan Islam itu.
Khalifah Umar malah menjadikan penanggalan itu sebagai jaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam.

Hah... sudah tahun baru lagi ya??? Jadi ingat umur mulai bertambah, waktu hidup mulai berkurang. Yang pasti harus banyak bersyukur karena terus mendapatkan curahan nikmat-NYA yang tak terhitung banyaknya, masih di beri kesempatan bernafas di bumi-NYA untuk mengumpulkan bekal hidup di akherat nanti.

Selamat Tahun Baru 1432 Hijriyah.  
Miss my Father
Terkirim Al Fatihah untuknya di sana….


Artikel menarik lainya:

Tidak ada komentar: